Keterampilan Berbahasa “Menyimak”

Posted: Agustus 27, 2009 in Belajar bahasa
Tag:

M E N Y I M A K
(sebuah catatan perkuliahan Wawan Sumarwan)

1. Pengertian: proses besar mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, dan interpretasi untuk mendapatkan informasi, memahami isi pesan dan memahami ujaran yang disampaikan oleh sang pembicara.

2. Hubungan menyimak dengan ke-4 keterampilan berbahasa: menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasidua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka, menyimak dan membaca mempunyai persamaan yaitu bersifat reseptif, menerima, dan bedanya menyimak menerima informasi dari sumber lisan sedangkan membaca menerima dari sumber tertulis. Artinya menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya adalah alat untuk menerima komunikasi, berbicara dan menulis erat berhubungan dalam hal cara untuk mengekspresikan makna. Dalam penggunaannya ke-4 keterampilan ini saling berhubungan, seorang mahasiswa yang mencatat saat menyimak dan membaca, seorang pembicara menafsirkan response pendengar terhadap pembicaraannya, dalam percakapan terlihat jelas berbicara dan menyimak hamper merupakan proses yang sama.

3. sebelum menyimak harus menlalui proses menyimak. Maksudnya adalah ketika seseorang menyimak suatu pembicaraan maka maka harus terlebih dahulu mengetahui isi pembicaraan sehingga maksud pemahaman dari hasil yang disimaknya akan benar, selain itu menyimak harus melalui tahapan-tahapan, yaitu tahap mendengarkan yaitu masuknya informasi atau ujaran ke telinga, lalu tahap memahami yaitu kemudian masuk ke otak informasi tersebut dipahami makna secara sempit, lalu tahap menginterpretasi yaitu menafsirkan ujaran secara keseluruhan, dilanjutkan dengan tahap mengevaluasi yaitu menilai informasi tersebut berdasarkan benar atau salah, dan terakhir tahap menanggapi yaitu respon berupa reaksi seperti ucapan selamat dan lain-lain. Contohnya ketika orang mendengar seseorang yang mengatakan bahwa sanak keluarganya telah meninggal karena terkena musibah banjir bandang, maka orang yang mendengarkan akan mengerti makna dari ucapan-ucapannya dan maksudnya, lalu akan timbul rasa simpati sehingga dia mengucapkan “aku turut berduka cita atas peristiwa tersebut”

4. suasana menyimak yang bersifat defensive (bertahan) yaitu bertahan dari ujaran-ujaran sang pembicara, yaitu:
a. evaluatif: uajaran pembcara yg memancing penilaian dari penyimak, contoh”saya akan menunjukan kepada anda, apakah anda orang yang pintar atau tidak, orang yang sudah mengerti atau belum, orang yang cukup cerdas atau tidak”
b. mengawasi: ujaran yang membuat si penyimak mengontrol benar/tidaknya ujaran yang disampaikan. Contohnya, teman-teman saya ini adalah orang yang cerdas, berpengalaman luas, baik hati, jujur, tidak mementingkan kepentingan pribadi, dan mempunyai jiwa kpemimpinan yang tinggi, sehingga sepantasnya anda memilih saya menjadi ketua BEM di universitas ini, karena saya akan beriusaha dan pasti bisa memajukan universitas ini”
c. strategis: ujaran pembicara yang membuat pendengar memasang kuda-kuda/pertahanan/siasat yg strategis. Contoh: saudara-saudara sudah lama saya memikirkan bagaimana caranya agar saudara-saudara semua dapat mengatasi musibah ini dengan cara yang saya lakukan. Sudah tidak ada keraguan lagi cara yang saya lakukan. Oleh sebab itu ikutilah cara yang saya lakukan ini, agar saudara mendapat manfaat dan keuntungan terhindar dari musibah banjir lagi, jangan ragu dan sangsi lagi, yakinlah untuk mengikuti cara saya.
d. Superior: ujaran pembicara mencerminkan rasa tinggi hati, merasa lebih unggul dari oranglaindlm segala hal. Contoh: kamu harus tau, harus sadar, bahwa kamu tidak ada apa-apanya disbanding aku. Lihat saja akuorang kaya banyak harta sedangkan kamu miskin tidak punya apa-apa, aku selalu berpakaian mahal dan keren sedangkan baju kamu murah dan jelek, lihat wajahmu yang jelek itu sedangkan wajah saya ganteng luar biasa, terus aku selalu dihormati dan disegani orang sedangkan kamu hina sekali. Apakah kamu tidak sadar akan itu semua? Kau dan aku ini bagai langit dan bumi.
e. Netral: ujaran pembicara mencirman sipat netral, tidak memihak golongan/pihak tertentu. Contoh: saudara-saudara saya tidak pernah memperhatikan msalah mereka, karena bagi saya masalah saya sendiri saja sudah cukup jadi tidak perlu lah mengurusi masalah rang lain.
f. Pasti dan tentu: ujaran pembicara membuat penyimak harus memilih salah satu alas an yang tepat/pasti. Contoh: kamu harus berikan jawabannya sekarang dengan tegas dan jelas! Kamu pilih akau atau dia? Cepat jawab!

5. Menyimak suportif: mendukung atau menunjang
a. Deskripsi: ujaran pembicara mendeskripsikan lebih banyak & menginginkan pendengar mengetahui lebih banyak. Contoh: tolong sampaikan kepada saya, kemajuan-kemajuan apalagi yang sudah dicapai sekolah ini: dalam bidang prstasi ekskulnya, prestasi belajarnya, sarana-prasarananya, dan bidang ketenagaannya. Saya yakin anda dapat memberikan data-data tersebut, karena anda lebih tahu mengenai hal itu.
b. Orientasi: ujaran pembicara berorientasi thdp suatau permasalahan & meminta pendengar untuk mengungkapkannya. Contoh: tadi telah saya kemukakan tentang berbagai kemajuan sekolah ini. Sekarang tolong katakana kepada saya menurut anda masalah apa saja yang ada baik dalam bidang prestasi ekskul, prestasi belajar, sarana-prasarana, dan bidang ketenagaan. Siapa tau msalah itu bisa dipecahkan bersama, dan yang tidak akan saya usahakan penjelsannya.
c. Spontanitas: ujaran pembicara bersifat spontanitas/langsun. Hal ini membuat penyimak mudah menangkap isi pembicaraan. Saudara-saudara dewan guru tadi telah saya kemukakan mengenai kesejahteraan guru. Sekarang apa yang dapat kita lakukan mengenai kesejahteraan itu, khususnya mengenai kenaikan gaji, pengurangan jam mengajar sesuai kondisi dan keadaan serta maslah pemutusan/perpanjangan kontrak! Mari kita pikirkan bersama hal ini. Karena tanpa dewan guru yang sejahtera mustahil sekolah ini bisa maju.
d. Empati: ujaran pembicara mencerminkan ketegasan thdp sesuatu hal. Contoh: kita tidak mau dihina, dicaci, serta dimaki tanpa alas an yang benar. Kita pasti marah karena ini benar-benar penghinaan besar, dianggap rendah tak bisa apa-apa! Sungguh keji perbuatan mereka itu bukan? Kta tidak mau diperlakukan seperti ini, karena kita makhluk Tuhan yang punya kedudukan sama di hadapanNya.
e. Ekualitas: ujaran pembicara mencerminkan persamaan hak antar sesama. Contoh: saudara2 mari kita pikirkan bersama, apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan mutu kwalitas pendidikan di sekolah kita ini.
f. Provesionalisme: ujaran pembicara mencerminkan rasa ketepaan dan kejelasan suatu hal. Contoh: melihat kemunduran prestasi belajarnya, maka cara yang terbaik adalah dengan memberikannya gratis bayaran sekolah! Masalah prestasinya jangan kawatir lagi, semester berikutnya pasti belajar dan prestasinya akan kembali meningkat.

6. Saran praktis meningkatkan keterampilan menyimak
a. bersifat positif
b. bertindak responsive
c. mencegah gangguan
d. simak & tangkap maksud pembicara
e. mencari tanda-tanda yang akan datang
f. mencari ranngkuman pembicaraan terdahulu
g. menilai bahan-bahan penunjang
h. mencari petunjuk verbal & non verbal

7. Gangguan-gangguan menyimak: 1) dari dalam: berupa fikiran-fikiran dari si penyimak sendiri, 2) dari luar missal karena hujan, berisik, suara mobil, dll. Cara pencegahannya adlah konsentrasilah pada ujaran-ujaran sang pembicara agar butir-butir pesan dapat ditangkap, dicerna, dan dipahami. Jadilah penyimak yang baik.

8. menyimak itu bernilai emas, artinya dari menyimak itu mungkin sekali memperoleh hal-hal yang bernilai tinggi yang berharga, yang berguna. Conthnya nasehat orangtua pada anaknya “Dengarkan dulu baik-baik sebelum kamu kerjakan”

9. Kendala2 menyimak: Keegosentrisan, Keengganan ikut terlibat, Ketakutan akan perubahan, Keinginan menghindari pertanyaan, Puas terhadap penampilan eksternal, Pertimbangan yang premature, Kebingungan semantic

10. Tujuan/fungsi menyimak:
a. Untuk belajar, contoh saat belajar di kelas, seminar, kuliah, dll
b. Untuk menikmati keindahan audial, contoh mendengarkan lagu di aradio, suara burung, suara qori, dll
c. Untuk mengevaluasi, contoh dipersidangan, diskusi, dll
d. Untuk mengapresiasi, yaitu menyimak agar dia dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu. contoh setelah membaca novel timbul rasa suka pada penulisnya, pembacaan puisi, cerita, musik dan lagu.
e. Untuk mengkomunikasikan ide-ide, contoh diskusi
f. Untuk membedakan bunyi-bunyi dgn tepat, contoh saat mengajar membaca Al-quran
g. Untuk memecahkan masalah, contoh berbicara dengan psikolog, guru agama ut memecahkan masalah
h. Untuk meyakinkan, untuk meyakinkan diri sendiri

11. Menyimak sangat penting dalam kehidupan, namun masih banyak orang tidak menyimak, hal itu mungkin dikarenakan: orang dalam keadaan cape, dalam keadaan tergesa-gesa, dalam keadaan bingung/pikiran kacau. Dan karena orangnya tipe introvet

12. Perilaku jelak dalam menyimak: tidak mau menerima keanehan pembicara, tidak mau memperbaiki sikap, tidak mau memperbaiki lingkungan, tidak dapat menahan diri, tidak mau meningkatkan pembuatan catatan, tidak tau/mau menyaring tujuan khusus, ridak memanfaatkan waktu secara tepat guna, tidak dapat menyimak secara rasional, tidak mau berlatih menyimak hal-hal yang rumit

Kebiasaan jelak dalam menyimak: menyimak lompat tiga, menyimak “saya dapat fakta”, nda ketulian emosional, menyimak supersnsitif, menghindari penjelasan yang sulit, menolak secara gegabah suatu subjek sebagai suatu yang tidak menarik, mengkritik cara dan gaya fisik pembicara, memberi perhatian semu, menyerah pada gangguan, menyimak dengan ketas dan pencil di tangan.

13. Menyimak tidak hanya pada ujaran tetapi juga pada gerakan, penglihatan, dan perasaan juga termasuk menyimak. Menyimak ini yaitu dengan mencari petunjuk-petunjuk non verbal seperti gaya, mimic, gerak-gerik, dan gerakan pembicara merupakan bagain yang vital dari pesannya. Bersiap-siap pada tanda non verbal ini akan mambantu memahami bagaimana gagsan itu terasa bagi pembicara. Akan membatu juga menilai ketulusan hari, kejujuran, pendirian, dan integritas umum pembicara yang mungkin saja mempunyai kepentingan khusus dalam menyimak kritis. Contohnya dalam debat, atau dipersidangan.

Semoga catatan ini dapat berguna bagi yang menulisnya dan semua yang membacanya. Amin ya Rabbal’alamin.

Segala masukan dan saran sangat diharapkan guna perbaikan catatan ini. Terimakasih.

—————-ttd wawan sumarwan——————————-sa_ayanawae@yahoo.c.id—————-

Komentar
  1. Gania macHIx mengatakan:

    thankz yah buat artikelnya….btw bisa minta referensinya nggak???

  2. kaka mengatakan:

    pEndapaT dari siapa ya??????????????????

  3. chuuby,,,,, mengatakan:

    kalo ada di jelasin juga iia tekhnik2 pengajaran menyimak’ya…….

  4. cweety mengatakan:

    mksih yha atas artikel nya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s