Cerpen “Perasaan yang Berbeda”

Posted: Juli 7, 2009 in cerpen, kebebasan bebicara

Perasaan yang Berbeda
“Bermain-main Perasaan”
(oleh: Wawan Sumarwan)

Ada apa ini?

Sudah beberapa minggu ini, dadaku terasa sesak, pikiran ku tidak karuan, badanku letih tidak bertenaga, mataku tidak bisa melihat fokus karena ada sesuatu yang menghalanginya, pendengaranku kian kurang jelas karena ada bisikan yang selalu hinggap, walaupun aktifitasku tidak mengurang namun produktifitasnya kian mengurang. Ada sesuatu yang menggelisahkan hati ini.

Sampai saat ini aku tidak tau benar apa dan yang mana. Hanya terkadang aku berperasangka pada satu keinginan dan berperasangka lagi ke keinginan yang lain, begitu dan begitu lagi. Sehingga aku sendiri bingung sebetulnya yang mana yang menyebabkan perubahan ini. Jangankan untuk mencari obatnya penyebabnya saja aku tidak tau.

Sore itu aku coba merenungi ini semua, mencoba mencari penyebabnya. Ku berlayar dalam samudra hati ini, mengintip setiap celah-celah dalam relung jiwa, menyebrangi setiap rasa dan asa, berlari dan mendaki harapan dan cita-cita, menyalakan lentera fikiran, menutupi semua duri kemunafikan, hingga akhirnya sesuatu ku temukan. Perasaan, pikiran, dan keinginan menyatu menjadi satu, menemukan dia.

Dia yang selama ini menggetarkan pintu-pintu hatiku, menyentuh perasaanku, menebarkan bibit-bibit keinginan dalam pikiranku. Dia yang telah membuat hati ini bimbang, membuat pikiran ini tidak berpikir jernih, membuat setiap otot-otot ini lesu tak bertenaga, menutupi pandanganku, menyamarkan pedengaranku.

Itulah mungkin perasaanku saat ini. Sungguh menderita, namun mudah bagi sebagian orang untuk menyelesaikanya, bahagia bagi sebagian insan yang menginginkannya. Namun entah bagiku?

Lama aku bertahan dengan prinsipku. Tidak memperdulikan ini, menganggap ini adalah hal yang tidak penting, jangankan untuk tenggelam ke dalamnya, memikirkannya juga seakan enggan. Ku hapus setiap titik pena yang akan mulai menulisnya, ku bunuh setiap perasaan yang akan membawa kepadanya, ku alihkan setiap pikiran yang akan mengarah kepadanya, tak sedikitpun hati ini ku izinkan kepadanya.

Namun semakin ku pertebal bangunan pertahanan ini semakin besar kekuatan yang merobohkannya, semakin banyak panah-panah rasa yang menusukku, palu-palu berkekuatan besar menggetarkan tiang-tiang egoku, angin badai bertiup kencang menyibak tirai-tirai hatiku, air hujan membasahi setiap tanah kehidupanku menyebarkan biji-biji asmara dalam kalbuku.

Ah…….. aku malu………….. aku kalah….aku mengakuinya

To be cont…….. nex. ok

”Berlama-lama dalam gelap akan membuat orang semakin peka indera rasanya, namun semakin takut akann cahaya. Itulah mungkin yang saat ini sedang aku lakukan, bangkit dari kegelapan dan berlari menuju temaram dan cahya. Aku tak mau mata ini menjadi buta, tapi aku juga tak mau rasa ini akan hilang, jadi ku hanya mencari tepat remang.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s