Cerpen “Maukah Bangsa Ini Dipimpin Pemimpin yang Bodoh?”

Posted: Maret 24, 2009 in cerpen

Maukah Bangsa Ini Dipimpin

Anggota Dewan Legislatif yang Bodoh?

(oleh: Wawan Sumarwan)

 

 

Bagaimana mungkin aku tidak kaget. Aku yang setiap hari biasa berhadapan dengan timbangan, karung-karung kumal, barang-barang bekas, dan tak mengenal seragam dinas ini harus berhadapan dengan meja jati mengkilap, kursi yang empuk, bolpoint, dan berpakaian rapi berjas dan berdasi pula. Padahal terakhir kali aku berseragam, waktu empatpuluh tahun yang lalu, seragam putih abu-abu.

 

Kemarin, dalam hidup pekerjaanku tak mengenal istilah apa itu institusi, politik, demokrasi, konstituen, atau apalah istilah-istilah lainnya yang baru hari ini aku mengenalnya. Kemarin aku hanya mengenal dua jenis kertas, yaitu kertas berharga berupa uang dan kertas bukti pembayaran berupa kwitansi, namun hari ini banyak sekali kertas di mejaku dan tak satupun yang aku kenal.

 

Kemarin, hanya dua benda yang biasa aku pegang, karung dan timbangan, namun hari ini ada benda yang baru aku lihat, bentuknya segi empat dan saat dibuka banyak tombol huruf-huruf dan angka-angka yang berjejer serta beberapa kabel yang menempel. Kemarin hanya satu buku yang biasa aku gunakan untuk mencaat semua barang-barang rongsokan yang dijual kepadaku serta mencatat catatan hutang beberapa pemulung yang kasbon, namun hari ini banyak pula buku-buku yang berjejer dilemari judulnyapun tak aku mengerti, map-map yang bertumpuk.

 

Dulu juga aku tak mengenal ruangan kerja atu kantor khusus, karena pekerjaan aku kerjakan di teras dan kadang-kadang di ruang tamu rumahku, namun hari ini ada tulisan di pintu ruang kerjaku ”Komisi ML” dan tepat di atas mejaku tertulis ”Heriono”, namaku.

 

Semuanya memang berawal dari kebiasaanku. Semenjak aku menang togel empat angka, tujuh tahunan yang lalu, aku jadi pecandu berat yang namanya lotre atau judi. Segala macam bentuk judi kelas menengah ke bawah iseng-iseng aku ikuti, dari mulai togel, judi merpati, sabung ayam, pertandingan sepak bola, sampai taruhan hari lahiran bayi istri tetangga.

 

Saat aku mengobrol dengan beberapa teman para pemulung tentang ramainya orang-orang yang mengikuti perlombaan – siapa yang paling banyak yang mendukung dia yang menang – mereka mengolok-olok aku ”Kalau kau ikut, gak bakalan ada orang yang memilih kau”, gerrr… mereka semua menertawaiku. Kontan saja, ini sangat menantang bagiku. ”Lihat saja kalian, koe ikut, dan bakal menang, berani taruhan lo semua?” tantangan inipun semua menyepakatinya.

 

Gayung bersambut, salah satu pembeli barang-barang rongsokanku adalah pengurus partai berlambang karung, akupun langsung mengutarakan niatku untuk mencalonkan diri dan diapun langsung menyambutnya dengan baik, tanpa seleksi ataupun interviu. Setelah menyetor sejumlah uang dan beberapa persaratan administrasi, sebulan kemudian nama dan potoku terpampang dimana-mana. Wow, inilah cara mudah buat ngetop di negeri ini.

 

Setiap hari tak kurang dari puluhan orang datang ke rumahku, mereka memberikan semangat dan pujian-pujian yang membuat insting menang lotereku memuncak, walau kadang pada akhrinya mereka meminta sejumlah rupiah. Memang aku sudah kurang memperhitungkan banyaknya biaya yang aku keluarkan, karena dalam keyakinanku terpatri ”semakin banyak modal yang dikeluarkan maka akan semakin banyak keuntungan yang didapatkan” sama percis dengan filosopisku tentang judi memancing, semakin mahal umpan maka akan semakin besar kemungkinan untuk menang, inilah kegilaannya orang-orang yang berjudi, mungkin. Usaha karung-karung dan timbangan telah aku gadaikan ke oranglain, tanah yang aku milikipun telah dijual untuk modal. Sama sekali tak merasa akan rugi bagiku, itulah keyakinan menang yang kuat.

 

Ini aneh juga, lama kelamaan tak aku pikirkan lagi tentang taruhan yang tempo hari disepakati. Yang nampak pada diriku hanya rasa optimis yang membara untuk menang, derajat yang samakin tinggi, penghasilan yang nantinya akan bertambah dan semakin terhormat tentunya. Tak hanya itu, dalam benakku sudah jauh menghayal kemana-mana, jika aku menang, aku akan kaya, mereka semua akan memanggilku ”yang terhormat Bapak Heriono” wah sungguh indah tiada terkira.

 

Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, pemungutan suara telah dilakukan. Penghitungan suarapun diumumkan. Dan memang inlah hasil yang aku dapat, buah dari jiwa lotre, aku menag suaraku diakui untuk menduduki kursi tehormat. Tapi hari ini aku kaget tak kepalang, bingung tak karuan, dan bodo sebodoh-bodohnya, tak tau sedikitpun tentang pekerjaanku ini. Apapula ini, mereka yang telah memilihku, apakah mereka juga orang-orang bodoh. Kalau saja hari ini aku jadi rakyat biasa, aku tak mau bangsa ini dipimpin leh pemimpin yang bodoh seperti aku ini.

 

Kalian yang masih jadi rakyat, ”Maukah Bangsa ini dipimpin oleh Anggota Legislatif yang Bodoh?”

 

 

Komentar
  1. Dian mengatakan:

    Ya ndak mau toh mas. Semoga pemimpin kta bkn org bdh bin tolol.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s