Tulisan “Aku dan Matahari”

Posted: Maret 4, 2009 in Uncategorized

Tulisan “Aku dan Mentari” Tak berlebihan kiranya dambakan mentari Walau hari terlalu pagi, mungkin Tapi tlah ku singkirkan awan hitam Ku usir jangkrik yang mengejekmu Ku tolak hujan yang menghalangimu Ku undang hari dengan janjimu Ayolah keluar cahya hangatmu Jangan biarkan aku membeku Terangi jalan laluku Dari salah arah Kalu memang kau masih tak mau Kan ku tunggu kau kala malam Walau tlah menjelma jadi bulan Entah yang ke berapa kalinya ini terjadi. Rasanya aku sudah sangat terlatih merasakannya, tak terasa ngilu seperti yang kemarin, tak terasa aliran panasnya di lembah kalbu. Mungkin saat ini sedang musim salju yang membeku, hingga tak terasa lagi tempaan angin dingin. Atau mungkin sudah terlalu lama kemarau, hingga mentari tak panas lagi. Ah mungkin ini hanya mimpi belaka yang menunggu mentari menyentuh pipi, hingga terbangun. Lalu akan terlupakan sudah semua kesan malam, ketika air membasuh sekujur tubuh. Angin lalu biar lah berlalu, tak akan pernah kembali walau mengharap hingga ke angkasa sana. Mungkin terlalu pagi bila ku harapkan mentari saat ini. Namun sudah ku usir awan hitam yang semalam, tidurkan jangkrik yang mengkernyit, bangunkan sang jantan biar berkokok, singkirkan embun yang menutupimu. Ayolah bangun dari tidurmu, hadirlah bersamaku masuki hegemoni hari, songsong masa dengan penuh semangatmu. Yakinlah aku tak bisa hadapi hari tanpamu, dan memang tak akan ada hari tanpa hadirmu. Ayolah terangi warna dunia ku, tak dapat kaki ini berjalan tanpa mercusuar dari mu. Tak tau ku, mana jurang mana jalan. Tau kah, ini sudah sering terjadi. Tapi ini tak boleh lagi terjadi. Aku tau harimu yang kemarin tak ku saksikan, tapi bukan karena aku tak beriring denganmu. Tau kah ini aku memang begitu, tapi sudah ku habiskan tenaga untuk menidurkanmu, menyelimutimu dengan jingga dan ungu, bahkan semua tlah ku turuti maumu sebisaku. Tau kah saat aku harus terbangun dalam lelahku, demi menemanimu menyusuri hari, memanggil setiap asa harap penasaranmu pada lembah yang dingin, pada rawa-rawa yang berair dan lembab, pada gunung yang menjulang tinggi, pada padang yang lapang menggersang, dan aku iklas tersenyum saat itu. Taukah saat aku membutuhkanmu, tapi kau telah lelah bermain seharian entah dengan siapa dan kau tertidur dalam lelapmu. Aku hanya menatapmu berharap nanti ada waktu untukku. Bahkan saat kau berada entah di belahan bumi yang mana. Tak pernah ku berharap mentari yang lain. Andai saja kau jadi angin. Saat ku isap, kau masuk dalam paru-paruku, akan kau lihat setiap tarikan nafas ini terdengar bisik namamu. Saat kau masuki jantungku, kau kan tau ada namamu terukir rapi disana. Saat kau masuk dalam hatiku, akan kau lihat semua harapmu yang tlah kau ucapkan yang ku padu dengan harapku. Saat kau masuki kepalaku, akan kau temui rencana-rencana yang tertuju padamu yang sesuai maumu. Biar kau tau mana aku dan siapa aku. Memang sulit berlari di pasir dalam. Mengayuh perahu berdayung tangan, arungi benua beragam rintang. Jalan sudah ke sekian langkah, luka kering – luka kembali. Sayang sekali harus ku mundur, mundur tak berada dalam hayalku. Ku yakin dengan diri ini, karena tak ada yang seperti ini, sama kuat sepertiku. Banyak sudah berbusah diri, takut aku akan takabur. Tapi jangan kau sangka itu, ini hanya luapan sukur pada Sang Pencipta. Biarlah kau bermain dulu di sana. Di balik bukit di balik langit, bahkan bermain bercengkram ria dengan segala angin yang menghiburmu. Biar kau rasa aku tak ada, tapi pikirmu tak akan sama tentangku. Aku kurang memang kurang, segala kurang ada badanku, segala sempurna ada dirimu. Banyak yang mengharap cahya dan hangatmu di sana. Ini asli bukan palsu, klise atau rayuan, bukan pula ini cacian. Aku tak akan marah ketika kamu harus berbaring di sana, menghilang dalam kebahagiaanmu sendiri, tak mengingatku sedikitpun. Tapi aku tetap akan disini menunggumu, walau saat kau telah berubah, saat cahyamu tak lagi terang, walau hanya redup yang kau berikan, walau kau tlah berubah jadi bulan. Sekali lagi ini bukan cacian, bukan rayuan. Ini nyata tak rekayasa. Biar kau tau, mentari, bahwa aku ada. Biar kau rasa, mentari, bahwa aku punya. Biar kau lihat, mentari, bahwa aku bisa. Biar kau benar-benar tau, mentari, bahwa aku bukan palsu. Ada mata untuk melihat, ada telinga untuk mendengar, ada lidah untuk mengecap, ada hidung untuk membau, ada kulit untuk meraba, ada hati untuk merasa, ada otak untuk berfikir. Semua berpadu berselaras menemukan yang tidak ada jadi ada, memperjelas yang ada jadi nyata. Aku tau kamu tau, semua kita punya untuk menemukan keyakinan dalam kebenaran

Komentar
  1. banny mengatakan:

    so sweet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s