Cerpen “Hak Azasi Hidup?”

Posted: Februari 12, 2009 in Uncategorized
Tag:

Hak Azasi Hidup
(oleh: Wawan Sumarwan)

Saat itu hari sudah gelap, mentari bersembunyi entah di belahan bumi yang mana. Di langit tak nampak seekor burungpun yang terbang melintas, karena kerajaan langit telah dikuasai kelelawar-kelelawar yang berseliweran ke utara dan selatan, barat dan timur. Waduh, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan saat ini, sahut Wardi pada kedua temannya, Syarif dan Hilman. Kita harus mencari tempat beristirahat. Di sana, sambung Syarif yang berlari ke tempat yang aga lapang di kelilingi tiga pohon jambu bol.

Tanpa komando, Syarif meletakkan ranselnya dan membuka gembolan besar berbahan perasit tebal. Hilman langsung membatunya dan sesaat kemudian tenda telah terpasang. Wardi datang dan meletakan ranting-ranting yang dikumpulkannya tadi sewaktu temannya mendirikan tenda. Di sana dibelakang pohon pinus ada mata air yang mengalir, kalian bisa mengambil air dan wudhu, guwa solat duluan. Syarif dan Hilman melangkah menuju tempat yang ditunjukan Wardi.

Wardi dan kedua temannya ini adalah mahasiswa di sebuah universitas swasta di Kota Hujan yang mempunyai hobi sama, yaitu naik gunung. Setiap libur kuliah mereka tidak pernah melewatkan ritual liburannya, pergi menyalurkan hobi, naik gunung. Hingga hampir semua gunung di kota ini di kunjungi sampai ke puncaknya, gunung Gede, gunung Pangrango, dan gunung Salak masing-masing sudah lebih dari dua kali didakinya. Begitu juga saat ini, sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi, karena lebih menyerupai barisan bukit yang sudah hampir hilang namanya, karena sebagian di bawahnya sudah berganti tanaman, yang kalau malam bisa kelihatan menyala walaupun dari jauh, dan bukan dihuni oleh sejenis kera, burung, ular atau jenis binatang lainnya, tapi dihuni oleh mereka yang biasanya teriak-teriak tentang hak azasi hidup tanpa memperhatikan hak azasi hidup jenis makhluk lainnya.

Berbeda dengan mereka bertiga ini, selain hobi mereka juga mempunyai misi lain dengan naik gunungnya kali ini. Mereka bertiga mendaki sambil melakukan penghijauan. Wardi seorang pecinta alam sejati, jangankan buat nebang pohon, membuang satu bungkus permen saja di hutan dia akan marah sambil berkhutbah kuranglebih sepuluh menit tentang bahaya bagi ekosistem hutan dan akibatnya nanti bagi kehidupan manusia. Hilman, hampir sama dengan Wardi hanya saja dia tidak seekstrim Wardi, ketika ada yang membuang sampah sembarangan di depannya, dia mengambilnya lalu memasukkannya pada tempat sampah, tanpa bicara sepatah kata pun hanya tatapan matanya yang dapat membuat pelakunya malu, mungkin. Dan perjalanannya ini, bagi Wardi dan Hilman adalah sebagai suatu pengabdian yang tulus, tanpa pamrih.

Syarif, pada pendakiannya kali ini ingin membuktikan pada Sinta, mahasiswi yang ditaksirnya mati-matian namun tak kunjung menerimanya, karena syaratnya berat, yaitu dia hanya akan menerima orang yang mau berbakti pada negara dan bangsanya dengan bukti yang nyata. Pendakiannya ini dengan misi penghijauan, merupakan jalan buat dia agar namanya tercatat sebagai relawan peduli lingkungan, dan sengaja dia membawa kamera digital untuk mendokumentasikan kegiatannya tersebut dan memperlihatkannya nanti pada gadis pujaannya. Azimah mustika, foto itu baginya. Maka bagi Syarif, orang mau buang sampah sembarangan ataupun tidak itu adalah perbuatannya sendiri, tak perduli, yang penting baginya kita tidak boleh melakukan pengrusakan di muka bumi ini, titik.

Saat ini, sambil makan malam, singkong rebus ditambah gula merah mereka bertiga mengobrol tentang pekerjaannya sepanjang hari tadi. Dalam perjalanan pulangnya ini mereka memang berencana untuk keluar dari daerah Jonggol, setelah pagi tadi masuk lewat Cisarua. Pegunungan Megamendung yang didakinya ini, adalah barisan bukit yang berbaris dari timur di Cisarua menuju barat di Megamendung, sedangkan di balik punggungnya adalah Citeureup dan sebagain Jonggol ke timurnya. Obrolanpun ditutup dengan jepretan modus malam kameranya Syarif. Sambil tersenyum ala Panji penakluk ular, Syarif nyengir memegang cangkul kecil ditangannya, bukan ular sepertii di fotonya Panji, tentunya,

Pagi-pagi mereka sudah merapikan tempat bermalam, Syarif menggulung tenda sambil difoto Hilman yang kelihatan ketus karena bosen dipaksa membidikan kamara pada model gunung ini. Wardi membersihkan tempat tersebut, memunguti sampah tak busuk sisa semalam yang tidak sempat dimasukkan ke pelastik hitam kecil yang menggantung di pinggulnya, kaya pistol yang selalu ready di pinggul coboy. Perjalanan pulangpun dilanjutkan.

Perjalanan pulang kali, disuguhi beragam eksotisme alam. Telaga yang beriar dingin, suci tak terjamah, terdapat tanaman tak menginjak tanah yang bisa berjalan berpindah ditiup angin, hawa sejuk kaya oksigen yang sampai ke dada dinginnya mengetuk-ngetuk ketika dihirup dalam-dalam, menyusuri pohon-pohon pakis, saninten, pinus, dan tumbuhan paku yang tersenyum menyapa mereka, terakhir mereka terpesona menatap tebing cadas putih miring seratus empat puluh derajat yang bercucuran air jernih di balik tangga-tangga kecilnya, nampak seperti perosotan anak-anak di water boom. Setelah itu sampailah di kampung pertama.

Pukul lima sore, mereka bertiga sudah kembali ke kontrakannya. Bagi mereka perjalanan ini sangat berkesan. Suatu hobi yang mampu memberikan makna yang dalam dari arti sebuah hidup, mencintai tanah sebagai dasar hidup semua makluk di bumi, menjaganya yang berarti mempertahankan kelangsungan hidup, dan sensasi kenikmatannya. Selain itu bagi Syarif perjalananya ini, adalah seperti pergi ke pertapaan sekaian lama dan kembali setelah ilmunya cukup untuk melawan monster jahat, yaitu keangkuhan Sinta pujaan hatinya.

Saat kuliah masuk kembali, mereka menceritakan semua perjalannya ini dengan menuliskannya di mading lengkap dengan foto-foto. Syarif bergegas berlari menemui Sinta dengan penuh semangat diterma, seperti seorang gadis cilik yang bahagia akan memperlihatkan lukisannya yang menggambarkan dua orang yang dimaksudnya papah-mamah. Setelah meletakkan foto-foto tersebut di atas meja di hadapan Santi, Syarif tersenyum sambil menjelaskan bahwa dia sudah melakukan baktinya pada tanah, bangsa dan bumi ini. Santi tersenuyum manis, Syarif bertambah senang tak tertahan. ”Maaf saya sudah punya dia” sahut Santi, sambil memberikan sebuah foto laki-laki berdasi gagah dengan nomor di sampingnya dan sebuah logo kebanggaan sebagai latarnya. Rupanya Santi telah menjatuhkan pilihan hatinya pada seorang pemuda tetangganya, yang kebetulan mencalonkan dri menjadi calon legislatif pada salah satu partai besar. Anggapan Santi, bahwa pemuda ini adalah seorang warga negara yang berbakti pada bangsanya dengan foto-foto yang tersebar di seantero kota. Kontan hal ini membuat Syarif kecewa. Hatinya mengiris pedih tak tertahan, senyumannya berubah pilu, wajahnya pucat tak berdarah, tanggannya gemetar, hantaman halilintar menderu di hatinya. Syarif lalu merapikan foto-fotonya, membalikkan badan, dan berlalu dari gadis pujaan hati yang telah menghempaskannya jauh ke samudra tak bernama.

Sementara itu tulisan dan foto ketiga anak-beranak itu telah terhalangi poster-poster konser musik, brosur loker, dan daftar nama-nama mahasiswa yang lulus di satu mata kuliah, yang tersisa hanya gambar pacul kecil dan judul tulisan ”…..HIJAUAN”. Rupanya tulisan itu hanya bertahan kurang dari setengah hari. Melihat hal itu Wardi mangap-mangap tentang ketidak perduliannya manusia-manusia akademia ini pada alam dan kehidupan, dia berkhotbah di kelas, di kantin, di bawah pohon, di warung baso, di bis umum dan di semua tempat yang ia singgahi, walau tanpa ada yang mendengarnya. Hilman hanya tersenyum-renyuh penuh makna, di depan monitor komputer sambil menuliskan cerita ini.

ilustrasi cerpen

ilustrasi cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s