Antara Pesona dan Mitos

Posted: Januari 9, 2009 in Uncategorized

Ketika musim liburan sudah menjadi kebiasaan warga Jakarta dan sekitarnya banyak yang mengisi liburan ke dearah Bogor. Memang tidak salah karena Bogor merupakan kawasan wisata paforit yang menjanjikan berbagai pilihan wisata, terlihat ketika baru saja keluar dari pintu tol Jagorawi sudah bertebaran brosur-brosur dan atribut-atribut iklan villa, hotel, dan tempat-tempat wisata yang ada di wilayah Bogor. Maka tidak diragukan lagi jalan di kawasan puncak menjadi macet begitu juga beberapa tempat wisata yang ada di kawasan ini menjadi ramai.
Objek wisata di kawasan puncak, banyak kita jumpai sepanjang jalan menuju Cianjur, diantaranya ada Taman Safari Indonesia, Taman Wisata Matahari, air terjun Curug Cilember, Wisata Agro Gunung Mas dan lain-lain. Selain itu ada sebuah objek wisata yang bagus yang berada di tengah-tengah perkebunan teh yang menghampar, tepatnya berada di lereng Gungung Lemo dan Gunung Masigit bagian dari Pegunungan Mega Mendung dengan panorama bukit dan tebing yang menciptakan pesona alam luar biasa, yaitu Taman Wisata Alam (TWA) Telaga Warna.
Telaga Warna, sebuah danau yang berada di kawasan puncak Bogor ini menjajikan pemandangan yang mempesona dan udara yang sejuk. Tidak heran kondisi ini membuat danau yang mempunyai luas 1 Ha ini ramai dikunjungi pada hari-hari libur. Pengunjung yang datangpun macam-macam, baik wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara. Pengunjung lokal kebanyakan berasal dari daerah Jabotabek. Sedangkan pengunjung manca negara kebanyakan berasal dari daerah Timur Tengah, Belanda, dan Australia. ”Pengunjung yang datang ke sini memang kebanyakan wisatawan lokal namun wiasatawan manca negara juga ada walaupun jumlahnya masih sedikit, seperti halnya wisatawan dari Timur Tengah” ujar Bapak Dikdik penjaga pintu masuk ke kawasan wisata ini yang saya temui.
Bagi pengunjung yang berasal dari kota besar seperti Jakarta, suasana di Telaga warna yang segar dan sejuk dapat dijadikan sarana refreshing setelah sibuk bekerja di tengah hiruk pikuk kota metropolitan yang kaya polusi. Seperti yang disampaikan salah satu pengunjung yang berasal dari Jakarta ”Saya dengan keluarga sedang lewat mau menuju ke Bandung, sambil istirahat kami mampir ke tempat ini, dan memang tempatnya bagus, kami di sini bisa makan-makan, jalan-jalan dan menghirup udara segar yang tidak pernah kami dapatkan di Jakarta”
Dengan hanya membayar tiket masuk sebesar dua ribu rupiah pengunjung TWA Telaga Warna bisa melakukan beragam kegiatan wisata, diantaranya berekreasi menikmati keindahan alam dengan keluarga atau teman, bagi yang memiliki hobi foto-foto dapat menyalurkan hobinya dengan foto hunting, melakukan penelitian tentang flora dan fauna bagi para pelajar dan mahasiswa, dan dengan tersedianya menara pengintai setinggi 13,5 meter para pengunjung dapat melihat serta mengamati berbagai jenis burung yang hidup di kawasan ini. Selain itu juga dengan topografi alam yang berbukit-bukit dan hamparan kebun teh yang membentang TWA Telaga Warna juga memiliki trak lintas alam yang menantang.
”Para pengunjung yang datang ke KWA Telaga Warna ini, dengan berbagai tujuan ada yang memang berniat jalan-jalan atau wisata, untuk mengadakan penelitian, dan ada juga yang hanya kebetulan lewat saja”, jelas Dikdik.
Untuk kenyamanan para pengunjung pihak pengelola telah menyediakan berbagai fasilitas, diantaranya trak alam, MCK/WC, shelter, pos jaga, information center, dan menara pengintai.
Selain karena pemandangan dan hawa sejuknya, kawasan wisata TWA Telaga Warna ini mudah dikunjungi, dengan jarak tempuh hanya satu setengah jam dari Jakarta atau tiga puluh menit dari pintu keluar Tol Jagorawi ke arah Cianjur, dan hanya satu jam empat puluh lima menit dari Bandung melalui Cianjur, tepatnya setengah km sebelum Mesjid At-Ta’awun. Kamudian dari Puncak Pas melalui jalan setapak di tengah perkebunan teh Gunung Mas PTPN VIII ditempuh dengan waktu 10 menit atau dengan kendaraan roda dua selama 3 menit. Sedangkan bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan roda empat diperlukan waktu 10 menit melalui jalan milik perkebunan dengan membayar karcis sebesar seribu rupiah, atau bisa dititipkan di pinggir Jalan raya Puncak tepatnya di depan Musola An-Nur.
Namun walaupun TWA Telaga Warna ini menjanjikan pesona alam yang cantik dan pihak pengelola telah menyediakan berbagai fasilitas bagi kenyamanan pengunjung, secara umum KWA Telaga Warna tidak seramai objek wisata lain yang berada di daerah puncak, tercatat dengan banyaknya wisatawan lokal yang datang pada tahun 2007 hanya mencapai 12.629 orang sedangkan untuk wisatawan asing sebanyak 460 orang, angka ini mencapai penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 13.061 orang wisatawan lokal dan 643 untuk wisatawan asing.
”Hal ini disebabkan oleh KWA yang luasnya masih kurang, sempitnya lahan parkir dan jalan masuk. Hanya kendaraan roda dua saja yang bisa langsung masuk ke KWA dengan menggunakan jalan milik KWA Telaga Warna, sedangkan kendaraan roda empat tidak bisa langsung sampai ke telaga, karena jalan mobil yang ada itu adalah milik perkebunan PTPN VIII” jawab Dikdik, ketika ditanya penyebab kurangnya wisatawan yang berkunjung.
Pihak pengelola dalam hal ini Departemen Kehutanan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat juga teleh menjadikan kawasan ini sebagai kawasan konservasi, ”Air yang ada di danau ini berasal dari mata air yang berada di sekeliling danau dan dari air hujan. Kawasan ini juga termasuk kawasan konservasi hewan dan tumbuhan” jelas penjaga pintu masuk yang juga salah satu staf dari Departemen Kehutanan Jawa Barat.
Tidak diragukan lagi, sebagai hutan lindung dan daerah konservasi alam TWA Telaga Warna banyak ditumbuhi berbagai pepohonan yang menghijau lebat mengelilingi kawasan ini dan dapat dengan mudah kita menemukan monyet-monyet yang bergelantungan di dahan-dahan pepohonan.
Sebagai wilayah konservasi yang luas keseluruhannya mencapai 368,25 Ha Cagar Alam Telaga Warna memiliki berbagai jenis flora hutan tropika, di-antaranya Puspa dengan nama latinnya Schimawalichi, Keliho atau Saurauha sp, Pakis atau Dysoxillu, Tebe (Sloare sigun), Pasang (Querlus sp), Saninten (Elaeocarpus), Pulus (Laperte sp), Walen Ficus ribes) Nagsi (Villebrunea sp), Pandan (Pandanus sp), Kihiur (Castanopsis javanica), dan lain-lain, serta beberapa jenis tumbuhan bawah, diantaranya Paku Tiang (Alsivhilya glauca), Rame (Lycovodiumcenum), Rotan (Calamus sp), dan masih banyak lagi jenis lainya.
Selain beragam jenis flora terdapat juga berbagai jenis fauna yang hidup di kawasan ini, meliputi mamalia, primata, aves, dan reptilia. Adapun jenis mamalia anatara lain macan tutul (panthera tigris), babi hutan (suserova), musang (paradoxiurus hemaproditus), dan lain-lain. Jenis primata diantaranya kera abu-abu (macacapascicularis), surili (presbyetis aygula), dan lutung (presbyetis cristata) yang terdiri dari lutung merah dan hitam. Sedangkan jenis apes diantaranya elang jawa (spizaetus bartelsi), burung madu (anthreytes malacensis), kutilang (pycnonotus aurigoster), dan lain-lain. Adapun jenis reptilia diantaranya banyak berbagai jenis ular dan kadal. Selain itu berbagai jenis serangga seperti kupu-kupu, jangkrik, dan jenis-jenis lainnya.
Sebagai kawasan konservasi, TWA Telaga Warna ini banyak dijadikan objek penelitian oleh mahasiswa-mahasiswa pertanian, kehutanan, MIPA, dan lain-lain. Diantaranya mahasiswa yang berasala dari IPB, UI, Unpak Bogor, UNPAD Bandung, Unwim Bandung, Unnas Jakarta, dan Asyafi’iyah Jakarta.
Selain dengan kecantikan pesona pemandangan alamnya yang elok yang dapat membawa siapapun yang melihatnya terpesona berdecak kagum dan hawa segar udaranya yang sejuk menjanjikan kandungan oksigen yang murni yang tidak mudah ditemukan di daerah Jabotabek ini, Telaga Warna juga mampunyai cerita tersendiri bagi masyarakat disekitarnya. Seperti yang jelaskan oleh Bapak Mugni, seorang warga yang tinggal di kawasan ini yang lebih senang dipanggil Ugi.
”Menurut mitos yang dipercayai masyarakat sekitar, menyebutkan bahwa danau Telaga Warna ini airnya kadang-kadang bisa berwarna-warni makanya disebut Telaga Warna, yang kalau di Bahasa Indonesia-kan menjadi Danau Berwarna”, jelas Pak Ugi. Namun berbeda dengan yang dijelaskan Dikdik, bahwa perubahan warna yang terlihat pada permukaan airnya ini disebabkan oleh pembiasan dari pantulan sinar matahari dan tumbuh-tumbuhan air yang berada di dasar danau.
Begitu juga dengan proses terjadinya danau ini, masyarakat sekitar mempercayai mitos yang mereka yakini secara turun temurun. Seperti yang dijelaskan oleh Bapak Ugi berikut.
”Pada jaman dahulu kala dikawasan puncak tepatnya di lereng Gunung Lemo komplek Pegunungan Mega Mendung terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama kerajaan Kutatanggeuhan, yang berarti kota andalan. Kerajaan ini sering huga disebut kerajaan Kemuning Kewangi yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Swarnalaya dan didampingi oleh permaisuri yang bernama Ratu Purbamanah. Pada masa keemasannya, setelah sang raja bersemedi untuk berdoa memohon dikaruniai anak, sang raja dikaruniai seorang putri yang sangat diidam-idamkannya”.
Setelah menyalakan rokok Ugi melanjutkan ceritanya, ”Putra sang raja tersebut adalah seorang perempuan cantik yang diberi nama Nyi Mas Gilang Rukmini atau Nyi Mas Ratu Dewi Kencana Wungu Kuncung Biru. Kelahiran putri cantiknya ini disambut dengan gembira oleh kerajaan ditandai dengan diadakannya pesta penyambutan selama tujuh hari tujuh malam. Berbagai hadiah dari kerajaan dan seluruh rakyat banyak berdatangan sebagai ungkapan rasa sukur dan hormat. Menginjak usian 17 tahuh kecantikannya tidak ada duanya di seluruh tanah Pasundan. Pada perayaan ulang tahunnya yang ke 17 putri menginginkan tiap helai rambutnya dihiasi emas permata. Karena sang perabu adalah seorang yang arif dan adil, raja memberikan sebuah kalung indah yang dibuat oleh sang empu sakti dari emas dan mutiara-mutiara. Pada waktu perayaan ulang tahun sang putri, raja memberikan hadiah tersebut. Namun sang putri tidak menerimanya malah melemparkannya hingga putus bercerai berai. Hal ini membuat semua yang hadir terpaku dan sang permaisuri pun menangis tak henti-henti, pada saat bersamaan terjadi keajaiban, bumi bergoncang dan keluarlah air yang semakin lama semakin membesar sehingga membentuk sebuah danau/talaga dan menenggelamkan kerajaan beserta segala isinya, kemudian dari dasar telaga memancarkan cahaya yang berwarna-warni yang diduga berasal dari kalung yang telah bercerai berai dan karena itulah danau ini disebut Telaga Warna”.
Sambil sesekali menghisap rokoknya Pak Ugi banyak bercerita yang lainnya perihal mitos yang berkembang di masyarakat diantaranya, bahwa di Telaga Warna ini juga dipercayai oleh masyarakat terdapat dua ekor ikan purba yang konon masih hidup sampai sekarang. Ikan purba tersebut yang pertama berwarna merah dan diberi nama Si Layung, sedangkan yang kedua berwarna hitam dan diberi nama Si Tihul. Ikan ini juga jarang menampakan diri, tetapi menurut kepercayaan masyarakat, apabila ada orang yang melihatnya maka segala cita-citanya akan terkabul.
Selain itu banyak orang yang percaya bahwa air telaga berkhasiat untuk pengobatan dan hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita. Sehingga banyak pengunjung yang mengambil airnya dan tak jarang yang mandi di telaga.
Namun apapun mitos yang berkembang tentang Telaga Warna ini, tetap saja bahwa keberadaan telaga dan kawasan ini sangat diperlukan bagi makhluk hidup. Maka peran serta dari masyarakat dalam hal ini para pengunjung sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pelestariannya, jelas Dikdik.
Bapak Ugi menjelaskan bahwa masyarakat di sini kesal sekali dengan pengunjung yang membuang sampah sembarangan dan pengunjung yang merusak tumbuhan serta orang yang sengaja melakukan pemburuan hewan di kawasan ini. ”Kami saja tidak berani merusak tempat ini, kenapa mereka yang hanya pengunjung berani melakukannya?” tambah BapakUgi.
Malah Dikdik menjelaskan KWA Telaga Warna sebagai derah konservasi, melarang siapapun mencabut atau merusak tanaman dan melakukan pemburuan atau memberi makan pada binatang-bintang yang berada di wilayanh ini. Karena hal itu akan merusak ekosistem yang ada dan juga bisa membahayakan.
Karena pentingnya keberadaan KWA Telaga Warna ini, siapapun yang datang ke tempat ini seharusnya menjaga betul-betul agar jangan sampai rusak atau hancur. Karena siapa lagi yang akan menjaga alam kalau tidak kita sendiri sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi ini.
telaga-warna-11

Komentar
  1. kevin2 mengatakan:

    terima kasih bapak pemilik blog ini, inilah manfaat internet saling berbagi/share kepada sesama. , Aaliyah

  2. john mengatakan:

    Saya tahu tentang kata “surel” dari Pak Ivan Lanin melalui tulisannya , Adwin

  3. Aali mengatakan:

    saya tetap akan menggunakan kata email pak, apakah dalam penulisan artikel ilmiah juga menggunakan surel/email? ini yang saya bingung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s