menyusun PTK sekarang ini sudah menjadi bagian dari keterampilan yang harus dimiliki Guru. Terlebih dengan peraturan yang baru, bahwa bagi Guru PNS golongan III (3) yang akan naik tingkat harus melampirkan PTK, sehingga angka kredit sudah bukan satu-satunya syarat untuk naik tingkat.
Kenyataan yang terjadi, ada beberapa Guru yang merasa kesulitan dalam menysun PTK. Kendati mereka sudah mengimuti perkuliahan khususnya pada Jurusan PGSD. Padahal PTK tentunya lebih mudah bagi sebagian orang dibandingkan dengan karya ilmiah jenis Skripsi atau Tesis. PTK lebih bersifat faktual dan realistis. Karena PTK berupa tindakan dari yang biasa Guru lakukan di dalam kelas.
PTK diawali dari kendala atau permasalahan yang dialami Guru di kelas. Yang kemudian permasalahan tersebut diselesaikan dengan teori-teori kependidikan dan keguruan baik berupa tekhnik, pendekatan, metode, media, atau model pembelajaran. Kegiatan perbaikan tersebut tentunya dilaksanakan dalam tindakan di kelas, yaitu tindakan pengajaran dalam KBM.
Berikut langkah-langkah penyusunan PTK melalui contoh :
1. Menyusun dan melaksanakan Rencana Pemebelajaran (Lesson Plan) http://www.scribd.com/doc/48279293
2. Mengidentifikasi masalah yang ditemukan dalam pelaksanaan pembelajaran (berdasarkan RP yang disusun tersebut, sebaiknya diamati oleh observer)

3. Menyusun atau menulis case study dari Guru sebagai refleksi dan renungan terhadap pembelajaran yang dilaksanakan

4. Dari identifikasi masalah ditetukan masalah yang akan dibuat PTK yang kemudian dicari sebab dan solusinya, yang kemudian direncanakan tindakan pemecahannya dengan menuliskan Rumusan Masalah

5. Dari data-data dan persiapan yang dilakukan di atas selanjutnya dijadikan bahan penyusunan Bab I, Bab II, dan Bab III
6. Menysun Bab I

7. sampai sini dulu ya…..(bersambung)

cerpen “keluhku sore ini”

Posted: Januari 18, 2011 in cerpen

ini hanya keluhku sore ini yang hanya se-tetes dapat terwartakan dan inilah kisahku http://www.scribd.com/doc/46192628

2010 in review

Posted: Januari 3, 2011 in Uncategorized

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 4,200 times in 2010. That’s about 10 full 747s.

In 2010, there were 2 new posts, growing the total archive of this blog to 24 posts.

The busiest day of the year was October 19th with 62 views. The most popular post that day was Keterampilan Berbahasa “Menyimak”.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were google.co.id, search.conduit.com, id.wordpress.com, ads.masbuchin.com, and polowijoyo.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for kajian puisi, menyimak sebagai suatu keterampilan berbahasa, mengkaji puisi, makalah kajian puisi, and pekerjaan pr.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Keterampilan Berbahasa “Menyimak” August 2009
3 comments

2

Kajian Puisi January 2009
2 comments

3

Analisis Kesalahan Berbahasa December 2009
1 comment

4

Kajian Sastra January 2009
1 comment

5

Kehumasan “Jenis-jenis Pekerjaan PR/Kehumas” February 2009

Membuat silabus dan RPP bagi seorang guru merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawabnya. karena bagaimanapun pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya persiapan terlebih dahulu. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang berlangsung secara terencana, sistematis, dan evaluatif. Kegita proses tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Namun pada kenyataannya, permasalahan timbul ketika guru jusru tidak melakukan kegiatan di atas. Ketika ditanya beragam alasan diutarakan. Memang banyak sekali tugas yang harus dikerjakan guru. Dimulai dari kajian kurikulum (standar isi, prota, prosem, silabus, rpp, kalender, dll), kajian pembelajaran (pbm), sampai evaluasi dan ektrakurikuler. Namun sudah menjadi konsekuensi profesi, seorang guru harus melaksanakan semuanya.
Setidaknya, ketika sudah berusaha dan berbuat (melakukan), sebesar apapun, dan seoptimal kemampuan, yang terpenting SUDAH BERBUAT.
berikut ada beberapa silabus dan rpp yang dianbil dari orang lain, yang mudah-mudahan dapat membantu:
1.
2.

3.

4. pkn
pkn
5.

pengenalan pola pembinaan guru melalui program BERMUTU
selengkapnya :http://www.scribd.com/doc/41363315″>


Analisis Kesalahan Berbahasa

Posted: Desember 3, 2009 in Uncategorized
Tag:

BAB I
TINJAUAN UMUM

1. Pengantar
Lebih dari setengah penduduk dunia adalah dwibahasawan yang menggunakan dua bahasa atau lebih sebagai alat komunikasi. Kedwibahasaan adalah hasil dari pemerolehan bahasa. Kedwibahasaan ini menimbulkan interferensi sebagai salah satu penyebab kesalahan berbahasa. Kesalahan berbahasa merupakan umpan balik bagi pengajaran bahasa. Pemerolehan bahasa adalah produk dari pengajaran bahasa.

2. Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa dapat dibagai atas Pemerolehan Bahasa Pertama (PB1) dan Pemerolehan Bahasa Kedua (PB2). PB1 adalah segala kegiatan seseorang dalam rangka mengusai bahasa ibu. Sedangkan PB2 adalah proses yang disadari atau tidak dalam rangka menguasai bahasa kedua setelah seseorang menguasai atau mempelajari PB1. Proses belajar ini dapat bersifat informal (pengajaran bahasa secara alamiyah) maupun formal (pengajaran bahasa secara ilmiah).
Menurut Dulay (1981:11), pengajaran bahasa secara alamiyah sama dengan pengajaran bahasa secara ilmiah. Para pakar sependepat pengajaran bahasa secara alamiah disebut dengan pemerolehan bahasa (language acquestion), dan pengajaran secara ilmiah disebut pemelajaran bahasa (language learning). Para ahli lain menganggap terdapat perbedaan yang jelas antara pemerolehan bahasa (alamiah) dan pemelajaran bahasa (ilmiah), mereka berargumentasi sebagai berikut:
PEMEROLEHANBAHASA PEMELAJARAN BAHASA
Informal Formal
Tidak berencana Berencana
Tidak disengaja Disengaja
Tidak disadari Disadari

3. Kedwibahasaan
Kedwibahasaan adalah kemampuan menghasilkan ujaran yang bermakna di dalam dua bahasa (atau lebih), bersifat relatif karena penguasaan bahasa seseorang berbeda-beda. Pengertian kediwibahasaan bersifat kira-kira atau kurang-lebih tidak bersifat mutlak, artinya pengertian kedwibahasaan berkembang dan berubah mengikuti tuntutan situasi dan kondisi. Faktor penyebab terjadinya pendidikan kedwibahasaan antara lain: dominasi politik, budaya, administrasi, ekonomi, militer, sejarah, agama, demografi, dan ideologi.
Kediwibahasaan dapat dipandang dari berbagai sudut, sehingga menghasilkan beraneka ragam klasifikasi, antara lain:
a. Berdasarkan hipotesis ambang yaitu subtraktif dan aditif
b. Berdasarkan tahapan usia pemerolehan yaitu infancy, childhood, adolescent, dan adulthood
c. Berdasarkan tahapan usia belajar B2 yaitu simultaneous dan sequential/berbarengan
d. Berdasarkan konteks yaitu compound/artificial dan coordinate/natural
e. Berdasarkan hakikat tanda dalam kontak bahasa yaitu kordintair, majemuk, dan subordinatif
f. Berdasarkan tingkat pendidikan folk dan elitist
g. Berdasarkan keresmian resmi dan tak resmi
h. berdasarkan kesosialan sosial dan individu
Jenis-jenis kedwibahasaan menurut para ahli:
a. Harding dan Riley berdasarkan jumlah pemakai bahasa, yaitu: kedwibahasaan individu adalah pribadi-pribadi yang dapat menggunakan PB1 dan PB2; kedwibahasaan masyarakat adalah suatu masyarakat tertentu, disamping menguasai bahasa ibunya juga menguasai bahasa kedua karena tuntutan tertentu.
b. Paul Ston (1975) menyebutkan istilah kedwibahasaan elite, yaitu kelas menengah yang mempunyai hak istimewa, biasa yang berpendidikan baik atau tinggi.
c. Tosi (1982) mengetengahkan istilah kedwibahasaan jelata, yaitu suatu kelompok etnik yang harus menguasai B2 agar dapat bertahan hidup. Leo Loveday (1986) membagi menjadi 5 jenis kedwibahasaan, yaitu kedwibahasaan majemuk, terpadu kordinatif (kaitan B1 dan B2), seimbang (penguasaan B1 dan B2), riel (minoritas, situasi B1), dan tambahan (gengsi kedwibahasawan).
Dwibahasaan terpadu adalah seseorang yang dapat memadukan kedua sistem bahasa yangdikuasainya. Dwibahasaan kordinatif yaitu seseorang yang tidak dapat memadukan kedua sistem bahasa yang dikuasainya. Dwibahasawan selaras yaitu pembicara yang sama mashirnya dalam dua bahasa. Dwibahasawan minoritas yaitu sekelompok masyarakat kecil yang dapat kehilangan B1nya karena didominasi masyarakat besar lain. Dwibahasawan tambahan yaitu pembicara yang dapat menggunakan dua bahasa yang bergengsi atau bermanfaat dan saling melengkapi, saling memperkaya dan sejalan.

4. Interferensi
Kontak bahasa yang terjadai pada dwibahasawan menimbulkan saling pengaruh antara B1 dan B2 pada unsur bahasa seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis. Penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut dengan transfer. Jika transfer bersifat membantu karena kesamaan atau kesejajaran disebut transfer positif. Jika tranfer bersifat mengacau karena perbedaan bahasa disebut transfer negatif atau interferensi interferensi menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran B2 dan menjadi salah satu sumber kesalahan.
Interferensi fisikologis yaitu mengacu pada pengaruh kebiasaan lama sebagai hasil mempelajari suatu terhadap suatu yang sedang dipelajari. Interferensi sosiolinguistik yaitu mengacu pada interaksi bahasa. Menurut Weinreich interferensi yaitu penyimpangan norma bahasa yang terjadi di dalam uajaran dwibahasawan karena keakrabannya terhadap lebih dari satu bahasa yang menyebabkan terjadinya kontak bahasa.

BAB II
ANALISIS KONTRASTIF

1.Pengantar
Analisis Konstranstif (Anakon) sampai pertengahan ahun 1960-an mendominasi dunia pengajaran bahasa asing. Begitu juga bagi guru bahasa Indonesia kendati bahasa Indonesia bagi sebagian siswa bukan merupakan bahasa asing. Pemahaman terhadap anakon akan membantu guru untuk mengaplikasikannya di dalam kelas, atau dapat mengembangkan dan memodifikasi serta menciptakan cara-cara pengajaran bahasa berdasarkan contoh-contoh yang ada.
Untuk memahami konsep Anakon terdapat sembilan butir penting, yaitu:
a. Batasan/pengertian Anakon
b. Hipotesis Anakon
c. Tuntutan pedagogis Anakon
d. Aspek linguistik serta psikologis Anakon
e. Metode Anakon
f. Cakupan telaah Anakon
g. Kritik terhadap Anakon
h. Implikasi pedagogis Anakon di dalam kelas
i. Anakon sebagai sarana pemrediksi kesalahan berbahasa

2. Batasan dan Pengertian Anakon
“Dasar psikologis Anakon adalah Teori Transfer yang diuraikan dan diformulasikan di dalam suatu teri psikologi dtimulus – Responsi kaum Behavioris” (James 1986 : 20) dengan kata lain teori belajar ilmu jiwa tingkah laku merupakan dasar Anakon. Ada dua butir inti teori belajar ilmu jiwa tingkah-laku, yaitu kebiasaan (habits); dan kesalahan (error). Apabila dikaitkan dengan pemerolehan bahasa maka kedua butir tersebut menjadi: kebiasaan berbahasa (language habits); dan kesalahan berbahasa (language error).
Menurut aliran psikologi behavirisme dengan tokoh Skiner berpendapat bahwa kebiasaan dapat terjadi dengan cara peniruan dan penguatan. Kebiasaan mempunyai dua karakteristik utama, yaitu:
1. Kebiasaan dapat diamati atau “observerble” bila berupa benda dapat diraba, dan bila berupa kegiatan atau aktifitas dapat dilihat.
2. kebiasaan bersifat mekanistis atau otomatis, kebiasaan terjadi secara spontan tanpa disadari dan sangat sukar dihilangkan kecuali kalau lingkungan berubah.
Aplikasinya dalam pengajaran bahasa yaitu ketika seorang anak menguasai PB1 (bahasa ibu) melalui peniruan yang biasanya diikuti pujian atau perbaikan. Dengan kegiatan ini mereka dapat mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur, pola kebiasaan PB1. Dalam PB2, melalui cara peniruan dan penguatan para siswa mengidentifikasi hubungan antara stimulus dan responsi yang merupakan kebiasaan dalam B2.
Menurut teori psikologi behaviorisme, kesalahan berbahasa terjadi karena transfer negatif. Yaitu penggunaan sistem yang berbeda yang terdapat pada B1 dan B2. Kesalahan berbahasa itu dapat dihilangkan dengan cara menanamkan kebiasaan berbahasa kedua melalui latihan, pengulangan, dan penguatan (hukuman atau hadiah).
Anakon berupa prosedur kerja, yaitu kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dan struktur B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan kedua bahasa itu.

3. Hipotesis Anakon
Perbedaan antara dua bahasa merupakan dasar untuk memperkirakan butir-butir yang menimbulkan kesulitan belajar bahasa atau kesalahan berbahasa yang dihadapi siswa. Maka dijabarkan Hipotesis Anakon. Terdapat dua versi Hipotesis Anakon, yaitu:
1. Hipotesis bentuk kuat (strong form hipotesis), menyatakan bahwa semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara B1 dan B2. dalam bentuk ini terdapat 5 bagian ragam dan asumsi Hipotesis Anakon, yaitu :
a. Penyebab utama kesulitan setelah interferensi bahasa ibu,
b. Kesulitan belajar disebabkan perbedaan B1 dan B2,
c. Semakin besar perbedaan B1 dan B2 maka semakin gawat kesulitan belajar,
d. Hasil perbandingan B1 dan B2 dipakai peramal kesulitan belajar; dan
e. Bahan pelajaran siswa adalah perbedaan yang disusun berdasarkan Anakon.
2. Hipotesis bentuk lemah (weak form hipotesis), menyatakan bahwa Anakon hanyalah bersifat diagnistik belaka karena Anakon dan Anakes harus saling melengkapi. Dalam ragam dan asumsi hipotesis Anakon bentuk ini menyatakan bahwa Anakon hanya bersifat diagnostik belaka.
Ada 3 sumber yang digunakan sebagai penguat atau rasional hipotesis Anakon, yaitu:
1. Pengalaman praktis guru bahasa asing, berupa tekanan B1 siswa pada B2. kesalahan cukup besar, menetap, dan selalu berulang.
2. Telaah mengenai kontak bahasa di dalam situasi kedwibahasaan, berupa B2 dipengaruhi B1, atau B1 dipengaruhi B2.
3. Teori belajar, berupa transfer positif B1=B2 dan transfer negatif/interferensi B1#B2.

4. Tuntutan Pedagogis Anakon
Kesulitan dalam belajar B2 serta kesalahan dalam berbahasa para siswa yang mempelajari B2 atau bahasa asing menyebabkan adanya tuntutan perbaikan engajaran bahasa. Hal inilah yang merupakan tuntutan pedagogis Anakon . Anakon adalah prosuder kerja yang kemudian diteruskan oleh aktivitas lainnya yang relevan dengan kegiatan sebelumnya. Semua aktivitas tersebut mengacu pada perbaikan pengajaran B2. Maka tuntutan pedagogis terhadap Anakon dijawab denngan sejumlah upaya dalam rangka memperbaiki pengajaran bahasa.
Robert Rado (1957) mengemukakan “Unsur-unsur yang sama dalam B1 dan B2 yang sedang dipelajari merupakan penunjang pengajaran B2, sebaliknya unsur-unsur yang berbeda menyebabkan timbulnya kesulitan belajar.” Bagi psikologi behaviorisme tanggapan Anakon dalam usaha memperbaiki pengajaran bahasa berisi 4 langkah, yaitu:
1. Perbandingan. Yaitu B1 dan B2 yang akan dipelajari siswa diperbandingkan. Perbandingan ini menyangkut segi linguistik.
2. Memprediksi atau memperkirakan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa.
3. Penyusunan atau pengurutan bahan pengajaran.
4. Penyampaian bahan.

5. Apek Linguistik dan Psikologis Anakon
Dari keempat langkah Anakon di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa Anakon mempunyai dua aspek yaitu aspek linguistik dan aspek psikologis (ellis, 1986 : 23). Aspek linguistik berkaitan dengan maslah perbandingan. Aspek psiklogis menyangkut kesukaran belajar, kesalahan berbahasa, cara penyusunan bahan pengajaran, cara penyampaian bahan pengajaran dan penataan kelas.
Aspek linguistik Anakon berkaitan dengan pemerian bahasa dalam rangka memperbandingkan dua bahasa. Untuk mengidentifikasi perbedaan dua bahasa dalam Anakon biasa digunakan linguistik strruktural, walaupun lebih efektif hanya jika kedua bahasa serumpun. Maka Chomsky mengusulkan tata bahasa generatif untuk mengatasi masalah ini. Menurut S.N Sirdhar ada tiga aspek tata bahasa generatif yang mempengaruhi Anakon, yaitu (1) kesemestaan bahasa, (2) struktur dalam dan struktur permukaan, dan (3) pemerian fenomena linguistik yang teliti dan eksplisit (Fisiak [ed], 1985 : 213). Tataran linguistik yang digarap oleh pengikut Anakon belum merata. Tataran fonologi lebih mendominasi, selanjutnya disusul tataran sintaksis dan terakhir kosa kata.
Hal-hal yang dapat diungkapkan melalui perbandingan dua bahasa, yaitu:
1. Ketidak perbedaan
2. Fenomena konvergen (dua butir atau lebih dalam B1 menjadi satu dalam B2, contoh B1 padi, beras, nasi. B2 menjadi rice)
3. Ketidakadaan (sistem dalam B1 tidak ada dalam B2)
4. Beda distribusi (butir B1 berbeda distribusi dengan butir sama B2)
5. Tiada persamaan
6. Fenomena divergen ( butir satu dalam B1 menjadi dua dalam B2)

6. Metode Anakon
Bila ingin mengetahui perbedaan dua bahasa maka harus terlebih dulu tersedianya deskripsi kedua bahasa tersebut. Deskripsi itu diperoleh melalui perbandingan yang akurat dan eksplisit. Pendekatan yang berkaitan dengan linguistik ada dua yang bisa digunakan. Pertama pendekatan “polisistemik” yang berasumsi bahwa bahasa adalah “system of system. Maka yang diperbandingkan hanya sistem kedua bahasa tersebut. Pendekatan kedua adalah “komparabilitas” atau “keterbandingan” yang menyangkut segi-segi (1) kesamaan struktur, (2) kesamaan terjemahan, dan (3) kesamaan struktur dan kesamaan terjemahan.
Pendekatan yang berkaitan dengan aspek psikologis terdapat dua. Pertama, pendekatan yang berkaitan pemerian dan prediksi interferensi harus berdasar pada kenyataan aktual yang dialami siswa, bukan pada abstrak atau teoritis. Pendekatan ini dikenal dengan “contact analisys in discenti”. Pendekatan kedua berkaitan dengan cara penyampaian yang sangat menekankan kepda pembentukan kebiasaan atau penekanan aksi-reaksi atau stimulus-responsi. Yang berkaitan dengan penataan kelas dikenal dengan pendekatan penataan terkait dan penataan terpisah.

7. Cakupan Telaah Anakon
Anakon mencakup dua hal. Pertama teori linguistik sebagai sarana pemerbanding strruktur dua bahasa. Kedua psikologi yang berkaitan dengan transfer, penyususnan bahan, cara penyajian dan penataan kelas.

8. Kritik Terhadap Anakon
Kritik terhadap aspek linguistik berkenaan dengan teori linguisik struktural yang kurang memadai, bidang garapan kebanyakan mengenai sistem fonologi, sedikit sintaksis, dan mengabaikan bidang semantik. Kritik terhadap aspek psikologis berkaitan dengan prediksi kesalahan, penyusunan bahan, belum adanya tata bahasa pedagogis, dan [enataan kelas. Weldemar Marton menyatakan bahwa kebanyakan kritik itu berdasarkan kesalahpahaman saja.

9. Implikasi Pedagogis Anakon
Implikasi Anakon dalam kelas pengajaran bahasa terlihat pada:
a. Penyusunan materi pengajaran yang didasarkan pada hasil perbandingan B1 dan B2.
b. Penyusunan tata bahasa pedagogis sebagai penerapan teori linguistik yang dianut.
c. Penataan kelas secaa terpadu atau terkait; bahasa ibu diperhitungkan dan digunakan sebagai pembantu dalam pengajaran B2.
d. Penyajian materi pengajaran yang secara langsung:
i. Menunjukkan persamaan dan perbedaan B1 dan B2.
ii. Menunjukkan B1 yang mungkin menginterferensi B2.
iii. Menganjurkan cara mengatasi interferensi.
iv. Melatih secara intensif butir-butir yang berbeda.

10. Anakon sebagai Pemerediksi Kesalahan
Walaupun banyak kritikan terhadap Anakon. Namun anakon tetap tegak dengan perbaikan dan penyempurnaan sehingga Anakon tetap fungsinal, paling tidak dalam pengajaran bahas Inggris sebagai B2. Anakon dapat memprediksi butir tertentu dari suatu bahasa yang fotensial mendatangkan interferensi. Walaupun tidak secara tepat Anakon dapat menunjukkan kesalahan akibat dari interferensi tersebut. Selain itu Anakon dapat menjelaskan sebab-musabab kesalahan tersebut.

Basa-basi

Posted: November 4, 2009 in kebebasan bebicara
Tag:

Tak perlu kiranya kita berbasa basi.? Basa-basi memang tak pernah menjadi basi, setiap hari hal itu menjadi ritual yang kiranya perlu dilakukan bagi hampir semua orang.

Misalnya Yogi, seorang mahasiswa jurusan publick relation. Hampir setiap hari menebar senyum pada tetangganya, padahal dia setiap hari bertemu dan sudah sangat dikenalnya. Dia sudah tau bahwa PAk Karso tetangganya ini bekerja sebagai guru dan dia juga sudah tau kalau Pak Karso ini mengajar pada pagi hari. Namun tak pernah behenti dan ‘kapok’ setiap bertemu pagi-pagi, dia selalu bertanya “Berangkat ngajar Pa?”. Sudah jelas kondisi Pak Karso memakai pakaian dinas mengajar dan pagi-pagi pula…..

Walah-walah, memang basa-basi tak penah menjadi basi.

Namun apakah penting basa-basi?
Bagi sebagaian kondisi dan situasi basa-basi memang perlu. Karena peranan basi-basi itu sendiri sangat besar, tidak hanya berupa sapaan namun terkandung nilai-nilai lain yang sangat penting, yaitu nilai sopan santun, keramahan, dan kekeluargaan. Selain itu adalah niat dari si penutur itu sendiri dan begitu juga respon dari si lawan tuturan.

Maka jadikan basa-basi agar tidak sekedar basa-basi, namun niatkan yang ikhlas dan tulus dengan menjungjung tinggi nilai kekeluargaan, keramah-tamahan dan kesantunan.

Bagaimana menerut anda apakah basa-basi itu penting?

M E N Y I M A K
(sebuah catatan perkuliahan Wawan Sumarwan)

1. Pengertian: proses besar mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, dan interpretasi untuk mendapatkan informasi, memahami isi pesan dan memahami ujaran yang disampaikan oleh sang pembicara.

2. Hubungan menyimak dengan ke-4 keterampilan berbahasa: menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasidua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka, menyimak dan membaca mempunyai persamaan yaitu bersifat reseptif, menerima, dan bedanya menyimak menerima informasi dari sumber lisan sedangkan membaca menerima dari sumber tertulis. Artinya menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya adalah alat untuk menerima komunikasi, berbicara dan menulis erat berhubungan dalam hal cara untuk mengekspresikan makna. Dalam penggunaannya ke-4 keterampilan ini saling berhubungan, seorang mahasiswa yang mencatat saat menyimak dan membaca, seorang pembicara menafsirkan response pendengar terhadap pembicaraannya, dalam percakapan terlihat jelas berbicara dan menyimak hamper merupakan proses yang sama.

3. sebelum menyimak harus menlalui proses menyimak. Maksudnya adalah ketika seseorang menyimak suatu pembicaraan maka maka harus terlebih dahulu mengetahui isi pembicaraan sehingga maksud pemahaman dari hasil yang disimaknya akan benar, selain itu menyimak harus melalui tahapan-tahapan, yaitu tahap mendengarkan yaitu masuknya informasi atau ujaran ke telinga, lalu tahap memahami yaitu kemudian masuk ke otak informasi tersebut dipahami makna secara sempit, lalu tahap menginterpretasi yaitu menafsirkan ujaran secara keseluruhan, dilanjutkan dengan tahap mengevaluasi yaitu menilai informasi tersebut berdasarkan benar atau salah, dan terakhir tahap menanggapi yaitu respon berupa reaksi seperti ucapan selamat dan lain-lain. Contohnya ketika orang mendengar seseorang yang mengatakan bahwa sanak keluarganya telah meninggal karena terkena musibah banjir bandang, maka orang yang mendengarkan akan mengerti makna dari ucapan-ucapannya dan maksudnya, lalu akan timbul rasa simpati sehingga dia mengucapkan “aku turut berduka cita atas peristiwa tersebut”

4. suasana menyimak yang bersifat defensive (bertahan) yaitu bertahan dari ujaran-ujaran sang pembicara, yaitu:
a. evaluatif: uajaran pembcara yg memancing penilaian dari penyimak, contoh”saya akan menunjukan kepada anda, apakah anda orang yang pintar atau tidak, orang yang sudah mengerti atau belum, orang yang cukup cerdas atau tidak”
b. mengawasi: ujaran yang membuat si penyimak mengontrol benar/tidaknya ujaran yang disampaikan. Contohnya, teman-teman saya ini adalah orang yang cerdas, berpengalaman luas, baik hati, jujur, tidak mementingkan kepentingan pribadi, dan mempunyai jiwa kpemimpinan yang tinggi, sehingga sepantasnya anda memilih saya menjadi ketua BEM di universitas ini, karena saya akan beriusaha dan pasti bisa memajukan universitas ini”
c. strategis: ujaran pembicara yang membuat pendengar memasang kuda-kuda/pertahanan/siasat yg strategis. Contoh: saudara-saudara sudah lama saya memikirkan bagaimana caranya agar saudara-saudara semua dapat mengatasi musibah ini dengan cara yang saya lakukan. Sudah tidak ada keraguan lagi cara yang saya lakukan. Oleh sebab itu ikutilah cara yang saya lakukan ini, agar saudara mendapat manfaat dan keuntungan terhindar dari musibah banjir lagi, jangan ragu dan sangsi lagi, yakinlah untuk mengikuti cara saya.
d. Superior: ujaran pembicara mencerminkan rasa tinggi hati, merasa lebih unggul dari oranglaindlm segala hal. Contoh: kamu harus tau, harus sadar, bahwa kamu tidak ada apa-apanya disbanding aku. Lihat saja akuorang kaya banyak harta sedangkan kamu miskin tidak punya apa-apa, aku selalu berpakaian mahal dan keren sedangkan baju kamu murah dan jelek, lihat wajahmu yang jelek itu sedangkan wajah saya ganteng luar biasa, terus aku selalu dihormati dan disegani orang sedangkan kamu hina sekali. Apakah kamu tidak sadar akan itu semua? Kau dan aku ini bagai langit dan bumi.
e. Netral: ujaran pembicara mencirman sipat netral, tidak memihak golongan/pihak tertentu. Contoh: saudara-saudara saya tidak pernah memperhatikan msalah mereka, karena bagi saya masalah saya sendiri saja sudah cukup jadi tidak perlu lah mengurusi masalah rang lain.
f. Pasti dan tentu: ujaran pembicara membuat penyimak harus memilih salah satu alas an yang tepat/pasti. Contoh: kamu harus berikan jawabannya sekarang dengan tegas dan jelas! Kamu pilih akau atau dia? Cepat jawab!

5. Menyimak suportif: mendukung atau menunjang
a. Deskripsi: ujaran pembicara mendeskripsikan lebih banyak & menginginkan pendengar mengetahui lebih banyak. Contoh: tolong sampaikan kepada saya, kemajuan-kemajuan apalagi yang sudah dicapai sekolah ini: dalam bidang prstasi ekskulnya, prestasi belajarnya, sarana-prasarananya, dan bidang ketenagaannya. Saya yakin anda dapat memberikan data-data tersebut, karena anda lebih tahu mengenai hal itu.
b. Orientasi: ujaran pembicara berorientasi thdp suatau permasalahan & meminta pendengar untuk mengungkapkannya. Contoh: tadi telah saya kemukakan tentang berbagai kemajuan sekolah ini. Sekarang tolong katakana kepada saya menurut anda masalah apa saja yang ada baik dalam bidang prestasi ekskul, prestasi belajar, sarana-prasarana, dan bidang ketenagaan. Siapa tau msalah itu bisa dipecahkan bersama, dan yang tidak akan saya usahakan penjelsannya.
c. Spontanitas: ujaran pembicara bersifat spontanitas/langsun. Hal ini membuat penyimak mudah menangkap isi pembicaraan. Saudara-saudara dewan guru tadi telah saya kemukakan mengenai kesejahteraan guru. Sekarang apa yang dapat kita lakukan mengenai kesejahteraan itu, khususnya mengenai kenaikan gaji, pengurangan jam mengajar sesuai kondisi dan keadaan serta maslah pemutusan/perpanjangan kontrak! Mari kita pikirkan bersama hal ini. Karena tanpa dewan guru yang sejahtera mustahil sekolah ini bisa maju.
d. Empati: ujaran pembicara mencerminkan ketegasan thdp sesuatu hal. Contoh: kita tidak mau dihina, dicaci, serta dimaki tanpa alas an yang benar. Kita pasti marah karena ini benar-benar penghinaan besar, dianggap rendah tak bisa apa-apa! Sungguh keji perbuatan mereka itu bukan? Kta tidak mau diperlakukan seperti ini, karena kita makhluk Tuhan yang punya kedudukan sama di hadapanNya.
e. Ekualitas: ujaran pembicara mencerminkan persamaan hak antar sesama. Contoh: saudara2 mari kita pikirkan bersama, apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan mutu kwalitas pendidikan di sekolah kita ini.
f. Provesionalisme: ujaran pembicara mencerminkan rasa ketepaan dan kejelasan suatu hal. Contoh: melihat kemunduran prestasi belajarnya, maka cara yang terbaik adalah dengan memberikannya gratis bayaran sekolah! Masalah prestasinya jangan kawatir lagi, semester berikutnya pasti belajar dan prestasinya akan kembali meningkat.

6. Saran praktis meningkatkan keterampilan menyimak
a. bersifat positif
b. bertindak responsive
c. mencegah gangguan
d. simak & tangkap maksud pembicara
e. mencari tanda-tanda yang akan datang
f. mencari ranngkuman pembicaraan terdahulu
g. menilai bahan-bahan penunjang
h. mencari petunjuk verbal & non verbal

7. Gangguan-gangguan menyimak: 1) dari dalam: berupa fikiran-fikiran dari si penyimak sendiri, 2) dari luar missal karena hujan, berisik, suara mobil, dll. Cara pencegahannya adlah konsentrasilah pada ujaran-ujaran sang pembicara agar butir-butir pesan dapat ditangkap, dicerna, dan dipahami. Jadilah penyimak yang baik.

8. menyimak itu bernilai emas, artinya dari menyimak itu mungkin sekali memperoleh hal-hal yang bernilai tinggi yang berharga, yang berguna. Conthnya nasehat orangtua pada anaknya “Dengarkan dulu baik-baik sebelum kamu kerjakan”

9. Kendala2 menyimak: Keegosentrisan, Keengganan ikut terlibat, Ketakutan akan perubahan, Keinginan menghindari pertanyaan, Puas terhadap penampilan eksternal, Pertimbangan yang premature, Kebingungan semantic

10. Tujuan/fungsi menyimak:
a. Untuk belajar, contoh saat belajar di kelas, seminar, kuliah, dll
b. Untuk menikmati keindahan audial, contoh mendengarkan lagu di aradio, suara burung, suara qori, dll
c. Untuk mengevaluasi, contoh dipersidangan, diskusi, dll
d. Untuk mengapresiasi, yaitu menyimak agar dia dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu. contoh setelah membaca novel timbul rasa suka pada penulisnya, pembacaan puisi, cerita, musik dan lagu.
e. Untuk mengkomunikasikan ide-ide, contoh diskusi
f. Untuk membedakan bunyi-bunyi dgn tepat, contoh saat mengajar membaca Al-quran
g. Untuk memecahkan masalah, contoh berbicara dengan psikolog, guru agama ut memecahkan masalah
h. Untuk meyakinkan, untuk meyakinkan diri sendiri

11. Menyimak sangat penting dalam kehidupan, namun masih banyak orang tidak menyimak, hal itu mungkin dikarenakan: orang dalam keadaan cape, dalam keadaan tergesa-gesa, dalam keadaan bingung/pikiran kacau. Dan karena orangnya tipe introvet

12. Perilaku jelak dalam menyimak: tidak mau menerima keanehan pembicara, tidak mau memperbaiki sikap, tidak mau memperbaiki lingkungan, tidak dapat menahan diri, tidak mau meningkatkan pembuatan catatan, tidak tau/mau menyaring tujuan khusus, ridak memanfaatkan waktu secara tepat guna, tidak dapat menyimak secara rasional, tidak mau berlatih menyimak hal-hal yang rumit

Kebiasaan jelak dalam menyimak: menyimak lompat tiga, menyimak “saya dapat fakta”, nda ketulian emosional, menyimak supersnsitif, menghindari penjelasan yang sulit, menolak secara gegabah suatu subjek sebagai suatu yang tidak menarik, mengkritik cara dan gaya fisik pembicara, memberi perhatian semu, menyerah pada gangguan, menyimak dengan ketas dan pencil di tangan.

13. Menyimak tidak hanya pada ujaran tetapi juga pada gerakan, penglihatan, dan perasaan juga termasuk menyimak. Menyimak ini yaitu dengan mencari petunjuk-petunjuk non verbal seperti gaya, mimic, gerak-gerik, dan gerakan pembicara merupakan bagain yang vital dari pesannya. Bersiap-siap pada tanda non verbal ini akan mambantu memahami bagaimana gagsan itu terasa bagi pembicara. Akan membatu juga menilai ketulusan hari, kejujuran, pendirian, dan integritas umum pembicara yang mungkin saja mempunyai kepentingan khusus dalam menyimak kritis. Contohnya dalam debat, atau dipersidangan.

Semoga catatan ini dapat berguna bagi yang menulisnya dan semua yang membacanya. Amin ya Rabbal’alamin.

Segala masukan dan saran sangat diharapkan guna perbaikan catatan ini. Terimakasih.

—————-ttd wawan sumarwan——————————-sa_ayanawae@yahoo.c.id—————-

MORFOLOGI BAHASA INDONESIA
(hasil comot kanan-kiri oleh: wawan sumarwan*)

Morfologi (linguistik)
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
Morfofonemik yaitu suatu kajian mengenai bidang kebersamaan antara bunyi dan bentuk kata (Tarigan, 1985: 27). Sedangkan Ramlan (1997: 83) mendefinisikan morfofonemik sebagai perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem yang lain. Ada tiga macam proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia yaitu proses perubahan fonem, penambahan fonem, dan hilangnya fonem.
Morfem adalah unsur yang terkecil yang secara individual mengandung pengertian dalam ujaran sesuatu bahasa (Hocket, 1958: 123). Menurut Bloomfield (1933: 161) morfem adalah suatu bentuk linguistik yang tidak memberikan kemiripan parsial secara fonetik-semantik terhadap bentuk lain. Ramlan (1997: 32) mendefinisikan morfem sebagai satuan gramatik yang paling kecil; satuan gramatik yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya.
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan arti (Sudarno, 1990: 17). Kedua istilah tersebut membentuk suatu istilah baru yaitu morfofonemik.

Morfem yaitu unit terkecil yang bermakna yang menyusun suatu bahasa (Nida, 1974: 6), sedangkan morf merupakan realisasi dari perubahan morfem dan alomorf merupakan keseluruhan morf.

Alomorf adalah perwujudan konkret dari sebuah morfem

Kata adalah sekumpulan huruf yang mempunyai arti.

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan suatu pikiran yang utuh [Alwi98]. Karena itu, kalimat dapat dilihat sebagai satuan dasar dalam suatu wacana atau tulisan.

Kalimat aktif yaitu kalimat yang subjek suatu kalimatnya merupakan pelaku perbuatan yang dinyatakan pada predikat.

Jika subjek suatu kalimat tidak berperan sebagai pelaku, tetapi sebagai sasaran perbuatan yang dinyatakan predikat, kalimat itu disebut kalimat pasif. Kalimat semacam ini merupakan kalimat ubahan dari kalimat aktif

*) dari berbagai sumber

Perasaan yang Berbeda
“Bermain-main Perasaan”
(oleh: Wawan Sumarwan)

Ada apa ini?

Sudah beberapa minggu ini, dadaku terasa sesak, pikiran ku tidak karuan, badanku letih tidak bertenaga, mataku tidak bisa melihat fokus karena ada sesuatu yang menghalanginya, pendengaranku kian kurang jelas karena ada bisikan yang selalu hinggap, walaupun aktifitasku tidak mengurang namun produktifitasnya kian mengurang. Ada sesuatu yang menggelisahkan hati ini.

Sampai saat ini aku tidak tau benar apa dan yang mana. Hanya terkadang aku berperasangka pada satu keinginan dan berperasangka lagi ke keinginan yang lain, begitu dan begitu lagi. Sehingga aku sendiri bingung sebetulnya yang mana yang menyebabkan perubahan ini. Jangankan untuk mencari obatnya penyebabnya saja aku tidak tau.

Sore itu aku coba merenungi ini semua, mencoba mencari penyebabnya. Ku berlayar dalam samudra hati ini, mengintip setiap celah-celah dalam relung jiwa, menyebrangi setiap rasa dan asa, berlari dan mendaki harapan dan cita-cita, menyalakan lentera fikiran, menutupi semua duri kemunafikan, hingga akhirnya sesuatu ku temukan. Perasaan, pikiran, dan keinginan menyatu menjadi satu, menemukan dia.

Dia yang selama ini menggetarkan pintu-pintu hatiku, menyentuh perasaanku, menebarkan bibit-bibit keinginan dalam pikiranku. Dia yang telah membuat hati ini bimbang, membuat pikiran ini tidak berpikir jernih, membuat setiap otot-otot ini lesu tak bertenaga, menutupi pandanganku, menyamarkan pedengaranku.

Itulah mungkin perasaanku saat ini. Sungguh menderita, namun mudah bagi sebagian orang untuk menyelesaikanya, bahagia bagi sebagian insan yang menginginkannya. Namun entah bagiku?

Lama aku bertahan dengan prinsipku. Tidak memperdulikan ini, menganggap ini adalah hal yang tidak penting, jangankan untuk tenggelam ke dalamnya, memikirkannya juga seakan enggan. Ku hapus setiap titik pena yang akan mulai menulisnya, ku bunuh setiap perasaan yang akan membawa kepadanya, ku alihkan setiap pikiran yang akan mengarah kepadanya, tak sedikitpun hati ini ku izinkan kepadanya.

Namun semakin ku pertebal bangunan pertahanan ini semakin besar kekuatan yang merobohkannya, semakin banyak panah-panah rasa yang menusukku, palu-palu berkekuatan besar menggetarkan tiang-tiang egoku, angin badai bertiup kencang menyibak tirai-tirai hatiku, air hujan membasahi setiap tanah kehidupanku menyebarkan biji-biji asmara dalam kalbuku.

Ah…….. aku malu………….. aku kalah….aku mengakuinya

To be cont…….. nex. ok

”Berlama-lama dalam gelap akan membuat orang semakin peka indera rasanya, namun semakin takut akann cahaya. Itulah mungkin yang saat ini sedang aku lakukan, bangkit dari kegelapan dan berlari menuju temaram dan cahya. Aku tak mau mata ini menjadi buta, tapi aku juga tak mau rasa ini akan hilang, jadi ku hanya mencari tepat remang.”